Incorrect file format 'tsan_webstat_url'
Warning: mysql_num_rows() expects parameter 1 to be resource, boolean given in /usr/www/users/tsantoso/v30/app_library.php on line 75
Incorrect file format 'tsan_webstat_url'Incorrect file format 'tsan_webstat_ip'
Warning: mysql_num_rows() expects parameter 1 to be resource, boolean given in /usr/www/users/tsantoso/v30/app_library.php on line 75
Incorrect file format 'tsan_webstat_ip'Incorrect file format 'tsan_webstat_browser'
Warning: mysql_num_rows() expects parameter 1 to be resource, boolean given in /usr/www/users/tsantoso/v30/app_library.php on line 75
Incorrect file format 'tsan_webstat_browser'Incorrect file format 'tsan_webstat_os'
Warning: mysql_num_rows() expects parameter 1 to be resource, boolean given in /usr/www/users/tsantoso/v30/app_library.php on line 75
Incorrect file format 'tsan_webstat_os'Incorrect file format 'tsan_webstat_day'
Warning: mysql_num_rows() expects parameter 1 to be resource, boolean given in /usr/www/users/tsantoso/v30/app_library.php on line 75
Incorrect file format 'tsan_webstat_day' __:: Tanadi Santoso ::__
     
" The thought we think and the words we speak create our experience "
Louise L. Hay
     
     
     
     
     
                 
  BOOK REVIEW

 
 

  THE BRAND GAP
Menjembatani Kesenjangan Brand
15 USD

  Banyak orang bilang bahwa sebuah brand secara dominan diwakili oleh desain visual yang eye-catching, unik dengan body copy yang bombastis. Padahal kalau dipelajari lebih dalam lagi, pengertian brand bukanlah seperti tersebut di atas. Ada makna khusus dari sebuah produk yang baru diluncurkan. Intinya adalah diferensiasi. Sampai di mana produk tersebut mampu membangun image khusus, unik, atau berbeda pada masyarakat konsumen. Bukan pekerjaan mudah untuk komunikasi marketing semacam ini.

Visual tentu dibutuhkan sebagai alat bantu untuk jualan. Desain grafis dengan konsep jelas, taktis, dan strategis akan sangat membantu para sales untuk lebih bisa menjual. Tidak semua usaha berhasil berkaitan dengan konsep visualisasi ini. Ada semacam jurang pemisah antara strategi bisnis dengan desain visual. Ada semacam kerenggangan hubungan yang mesti bisa dipautkan antara dua hal tersebut.

The Brand Gap ditulis dengan ringan tapi bermutu, dengan ukuran kecil dan penuh ilustrasi yang menarik, membuat mereka yang biasanya takut bukupun menyukainya. Gambar apik, tulisan berani dan irama yang ceria membuat proses membaca lebih terasa nikmat daripada sebuah beban. The Brand Gap, ditulis oleh Marty Neumeier, seorang pakar branding terkemuka dari Inggris dengan konsep matang dan terarah. Marty Neumeier adalah juga presiden direktur Neutron LLC, sebuah firma branding yang menangani sejumlah klien ternama termasuk Kodak, Sun Microsystems, Adobe, dan Procter and Gamble. Fenomena banyaknya kegagalan di dalam proses brand building menggelitik beliau untuk mencari tahu apa akar permasalahan sesungguhnya. Pengalamannya sebagai desainer, penulis, dan konsultan strategi membawanya untuk mengemukakan gagasan realisme bahwa ada 5 (lima) disiplin dalam rangkaian proses brand building.

Ada semacam kegelisahan di antara praktisi bisnis dewasa ini berkaitan dengan kegagalan mereka untuk tetap survive. Berbagai upaya dilakukan untuk terus menggenjot laba perusahaan. Mulai dari yang paling konvensional dan tradisional seperti door to door salesmanship hingga yang paling canggih seperti pemanfaatan dan optimalisasi teknologi informasi termasuk website dan interactive company profile. Yang disebut terakhir ini serasa muncul membahana dengan tampilan fitur-fitur yang user-friendly dan memberikan pengalaman khusus untuk para user-nya. The Brand Gap adalah bacaan wajib untuk siapa saja yang berkeinginan untuk meningkatkan kekuatan branding-nya.

Di awal cerita, Marty mencoba untuk meluruskan anggapan yang melenceng perihal pengertian branding. Banyak kalangan salah menilai soal konsep branding. Branding seringkali diasumsikan sebagai logo, corporate identity, atau juga slogan. Logo, symbol, monogram, dan emblem sebenarnya adalah trademark. Mereka ada karena berdiri sebagai symbol dari branding. Brand juga bukanlah sistem corporate identity. Sistem ini lebih bertugas khusus untuk melakukan fungsi kontrol terhadap aplikasi trademark untuk publikasi perusahaan, iklan, stationery, house style, dan lainnya. Brand juga bukan produk. Pihak-pihak tertentu sering salah kaprah soal yang satu ini. Orang-orang marketing sering bilang bahwa tugas mereka adalah memenej brand padahal tidaklah demikian sebenarnya. Tugas mereka sudah jelas; memenej produk, sales, distribusi dan segala hal berkenaan dengannya.

Brand didefinisikan sebagai emosi atau perasaan yang timbul terhadap sebuah produk, jasa, atau perusahaan. Intinya, brand bisa dirasakan efeknya di benak masyarakat konsumen. Nike, merk dagang sepatu sport terbesar abad ini, dengan mengusung slogan “Just Do It” mampu memberikan gelora spirit untuk mereka yang berjiwa muda. Untuk perusahaan besar sekelas Nike, konsep branding bukan lagi dalam tataran hard sell tapi lebih pada corporate image building. Redefinisi branding oleh Marty di babak pendahuluan adalah pemanasan yang memang perlu meski bahasan utama ada di lima bab berikutnya. Untuk menjembatani jarak antara strategi bisnis yang begitu kompleks dengan desain visual yang mewakili image produk maupun perusahaan diperlukan 5 strategi khusus. Marty menyederhanakan tips-nya secara sistematis mulai dari Diferensiasi, Kolaborasi, Inovasi, Validasi, dan Mengolahnya.

Marty memandang betapa pentingnya diferensiasi atas bidang usaha atau produk yang diluncurkan. Untuk bisa berhasil, sebuah produk harus memiliki faktor pembeda dengan produk lain, entah itu di segmentasi pasar, kemasannya, kualitasnya, kuantitas, atau bisa juga harga jualnya. Sebuah desain produk atau kemasan memiliki andil penting di strategi komunikasi pasar. Pandangan tradisional para pakar desain mengatakan bahwa ada 4 (empat) tujuan yang hendak dicapai dalam sebuah desain di antaranya mengidentifikasi, menginformasikan, menghibur, dan meyakinkan. Marty menambahkan bahwa ada satu lagi tujuan yang tidak kalah pentingnya, yaitu mendiferensiasikan. Jika empat pertama bersifat taktis maka yang terakhir memiliki posisi yang lebih strategis, berakar pada nilai estetika terdalam dan merupakan kombinasi yang sangat kuat dari logika dan keajaiban. Sabun cuci Attack menjual produknya dengan mengandalkan bintik hijaunya sebagai bahan paling ampuh bersihkan noda. Cukup cerdas mengingat dialah yang pertama memperkenalkan inovasi ini. Meski dihantam ramai-ramai oleh pesaingnya dengan inovasi sejenis, Attack tetap mampu bertahan karena diferensiasi yang kuat. Konsep brand development untuk produknya memiliki pengaruh yang sangat kuat.

Branding adalah kerja keroyokan. Hal ini dikupas tuntas di bab berikutnya. Bahwa mendevelop brand adalah layaknya mendirikan bangunan katedral di masa Renaissance. Kerja kolaborasi yang melibatkan beberapa pihak yang berkompeten dengan pengembangan brand menjadi trend saat ini. Ada 3 (tiga) model kolaborasi untuk mengembangkan brand; outsourcing brand secara keseluruhan ke pihak lain, outsourcing secara parsial ke sebuah agensi brand, dan yang terakhir mengembangkan divisi brand internal yang terintegrasi dengan departemen marketing. Kolaborasi pertama mula diperkenalkan oleh Hollywood. Untuk memproduksi sebuah film, seorang produser harus melibatkan puluhan bahkan ratusan seniman berbakat. Semua memiliki peran penting untuk berhasilnya sebuah produksi. Hollywood tidaklah unik, dia hanya lebih berkembang dari industri lainnya.

Inovasi musti dilakukan. Kreativitas jadi kunci penting dalam melakukan inovasi. Marty berpendapat bahwa kreativitas bukan hanya berpikir logis. Kreativitas harus mampu menyentuh sisi emosional audiens karena audiens memang membutuhkan itu. Mereka sudah bosan dijejali dengan iklan-iklan yang bersifat hard sell. Kecenderungan untuk lari dari konsep promosi seperti ini menunjukkan bahwa aspek penerimaan konsumen atas serbuan iklan memiliki pengaruh yang cukup vital. Kriteria nama produk misalnya. Untuk bisa diterima masyarakat konsumen, nama produk musti memiliki sejumlah nilai termasuk unsur pembeda, mudah diingat, kesesuaian dengan bisnis, mudah dibaca, punya kekuatan stimulasi, kekuatan untuk dibayangkan secara visual, dan memiliki kekuatan hukum sebagai sebuah trademark. Coba perhatikan logo BII yang cukup mudah dibaca dan eye-catching. Pun tidak hanya itu, konsep di balik visualisasi itulah yang memegang peran paling penting karena menggambarkan visi perusahaan ke depan.

Pembuktian awal atas konsep branding yang Anda lakukan musti dilakukan untuk mengetahui apakah konsep tersebut mampu mengena pada target sasaran. Biasanya kuesioner disebar ke khalayak untuk mengetahui apakah sebuah konsep branding (bisa berupa logo, icon, mascot, ataupun slogan) memiliki nilai akseptabilitas. Prototipe biasanya dibuat dalam beberapa alternatif untuk memudahkan responden memilih mana yang paling reprentatif dan aspek apa yang sekiranya bisa disampaikan untuk dilakukan revisi. Ada proses yang harus dilalui pada saat konsep desain dilakukan dan musti melalui studi pengayaan oleh berbagai pihak terkait termasuk klien, agensi, desainer, dan calon konsumen.

Mengolah adalah bagian paling sulit untuk dilakukan. Sebuah brand bukan hanya hidup di luar, di mana dia bertugas menyentuh sisi kognitif dan emosional konsumen. Dia juga musti hidup di dalam tubuh perusahaan. Brand adalah jiwa dan brand adalah filosofi. Ketika external action berkolaborasi dengan kultur perusahaan, maka sebuah brand akan makin terasa gaungnya. Brand juga perlu dimaintain. Artinya brand musti dievaluasi secara reguler. Jika sudah kuat bahkan brand harus dilindungi supaya tidak karatan oleh jaman dan aspek pengganggu lain. Problem biasanya ada di regenerasi. Seringkali orang-orang baru tidak dibekali pemahaman soal konsep branding atau bisa juga generasi baru yang kurang memiliki kemampuan untuk itu.

Di bagian akhir, Marty memberikan pekerjaan rumah untuk pembaca sebagai aplikasi dari teori dan gagasan yang dia kemukakan. The Brand Gap adalah bacaan yang sangat menarik buat para praktisi periklanan, marketer, praktisi komunikasi marketing, desainer grafis, dan pembelajar periklanan. Bahasanya yang lugas dan praktis, teori yang berdasar fakta di lapangan, ilustrasi menarik dan studi kasus yang aktual dan faktual merupakan daya tarik tersendiri bagi buku ini. Buku nikmat ini dapat anda selesaikan semalam, kenikmatan membaca sambil menimba ilmu branding. Selamat membaca.


 
 
Copyright @ 2003 sam-design.com
All Rights Reserved